Sidang Promosi Doktor Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Sekolah Pascasarjana IPB University telah dilaksanakan pada Selasa, 12 Agustus 2025 di Ruang 202, Gedung Sekolah Pascasarjana, Kampus IPB Dramaga, Bogor. Roy Wangintan, mahasiswa Program Doktor PSL angkatan 2022, berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji. Tim Komisi Pembimbing terdiri dari Prof. Dr. Ir. Moh. Yani, M.Eng. (Ketua), Prof. Dr. Ir. Hartrisari Hardjomidjojo, DEA., dan Prof. Dr. Ir. Tania June, M.Sc., dengan penguji luar Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya N., M.Eng. (IPB University) dan Dr. Donaldi Sukma Permana, MS. (BMKG). Disertasi berjudul “Model Pengendalian Pencemaran Udara di Wilayah dengan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi: Studi Kasus DKI Jakarta” ini mengkaji perumusan model pengendalian pencemaran udara perkotaan yang adaptif terhadap dinamika pertumbuhan ekonomi, menggunakan pendekatan sistem dinamik dan berbasis data real-time.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi kualitas udara DKI Jakarta yang sering berada pada kategori sedang hingga buruk, khususnya jika mengacu pada standar WHO. Pertumbuhan pesat sektor transportasi, industri, konstruksi, serta konsumsi bahan bakar fosil memicu tingginya konsentrasi polutan utama seperti PM₂.₅, PM₁₀, SO₂, NO₂, CO, dan O₃. Analisis menggunakan Environmental Kuznets Curve (EKC) menunjukkan bahwa wilayah Jakarta Pusat, Utara, dan Selatan memperlihatkan pola kurva U normal—kualitas udara memburuk di fase awal pertumbuhan ekonomi, lalu membaik setelah melewati titik balik tertentu—sedangkan Jakarta Timur menunjukkan kurva U terbalik, dengan penurunan kualitas udara di fase pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan Indeks Kualitas Udara berbasis enam parameter (IKU-P6) yang memanfaatkan data real-time Air Quality Monitoring System (AQMS), menggantikan metode konvensional yang hanya berbasis SO₂ dan NO₂. Selain itu, penggunaan EKC dengan IKU sebagai indikator kualitas lingkungan memberikan perspektif baru terhadap hubungan ekonomi–lingkungan. Model pengendalian juga mengintegrasikan data observasi, reanalisis Copernicus Atmospheric Monitoring Services (CAMS), simulasi Weather Research and Forecasting with Chemistry (WRF-Chem), serta analisis variabel strategis dengan metode MicMac, sehingga menghasilkan simulasi spasial-temporal polusi udara yang lebih akurat.
Model sistem dinamis yang dirumuskan mencakup integrasi variabel sosial, ekonomi, teknologi, dan kebijakan, dengan tiga skenario: pesimis, moderat, dan optimis. Skenario pesimis memperlihatkan penurunan Indeks Kualitas Udara (IKU) yang signifikan hingga 2050 jika tidak ada intervensi lintas sektor, sedangkan skenario optimis—melalui pengendalian emisi, peningkatan kesadaran publik, dan kolaborasi multi-stakeholder—mampu menstabilkan IKU pada kisaran 70–75. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sinergi kebijakan transportasi, industri, dan tata ruang menjadi kunci keberhasilan pengendalian pencemaran udara di wilayah metropolitan.
Kontribusi Roy Wangintan melalui penelitian ini tidak hanya memberikan kerangka teknis pengendalian pencemaran udara, tetapi juga menawarkan alat perencanaan kebijakan yang bersifat adaptif, partisipatif, dan berbasis bukti. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan pembuat kebijakan nasional dalam merumuskan strategi pengendalian polusi yang efektif tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi. Selain itu, penelitian ini relevan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) khususnya poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), poin 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), dan poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim).


Sidang Promosi Doktor PSL IPB University an. Roy Wangintan